OPINI: Menggaet Anak Muda Di Pilpres 2024 Lewat “Gimmick” Dan “Jargon”

4 minutes reading
Monday, 25 Dec 2023 13:18 0 5 admin

Anak muda sekarang menjadi penentu pemilu mendatang. Generasi muda sekarang lebih mendominasi. Hal ini tentu digunakan oleh partai politik sebagai bahan untuk menjaring banyak suara dari generasi muda.

Tidak sedikit juga dari politisi yang menyatakan dirinya bagian dari anak muda. Bahkan banyak yang berjanji untuk dapat memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk dapat melakukan perubahan.

Namun, apakah semua hal tersebut mampu menggaet suara dari generasi “muda” sekarang? Sedangkan kebanyakan dari para politisi setelah berhasil menjaring suara dari generasi muda. Kebanyakan dari mereka apresiasinya tidak didengar atau cenderung diabaikan begitu saja.

Anak Muda Di Pilpres 2024

Anak muda sekarang ini dalam pemilu 2024 menjadi sesuatu yang sangat menjanjikan bahkan mereka dapat menjadi penentunya. Melihat data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia, pemilih muda menjadi pemilih terbanyak.

generasi milenial menjadi pemilu 2024

Dengan keberadaan anak muda yang menyumbang lebih dari 50% suara dalam pemilu kali ini, tentu menjadi magnet yang menjanjikan. Oleh sebab itu ada banyak politisi serta partai politik yang berusaha keras mendapatkan atensi anak muda.

Mereka mendekati anak muda ini dengan berbagai siasat. Mulai dari materi kampanye yang lebih ditujukan untuk anak muda. Ada banyak politisi dan partai politik yang bergaya seolah mereka adalah bagian dari anak muda itu sendiri. Hingga materi politik yang banyak unsurnya seperti anak muda, hingga sukses mendapat atensi anak muda itu sendiri.

Bahkan mereka tidak segan menyebut diri mereka sebagai bagian dari anak muda, partainya anak muda atau bergaya serta berpose seperti anak muda. Tak sungkan mereka juga menggaet influencer hingga pembuat konten menjadi bagian dari tim kampanye. Mereka berlomba seolah dekat dengan para anak muda. Seakan menjadi pihak yang akan membawa banyak perubahan untuk para anak muda.�

Dengan jumlah pemilih generasi milenial dan generasi Z yang mencapai hingga 115,6 juta atau 56,45% dari total pemilih dalam pemilu. Tentu hal ini menjadi magnet yang sangat menjanjikan dalam mendapatkan perolehan suara untuk pasang calon.

Gimmick Untuk Menjaring Suara Anak Muda Di Pemilu 2024

Setiap politisi, tim kampanye dan partai politik mempunyai cara tersendiri untuk dapat menggaet suara dari anak muda. Ada banyak bahan yang mereka gunakan untuk mampu menarik simpatisan dari anak muda itu sendiri.

Dalam ruang kota misalnya, mereka berusaha menyebar reklame politik di berbagai sudut kota. Ada yang menggunakan gambar animasi lucu untuk menggaet anak muda. Ada yang menggunakan jargon sebagai citra diri mereka yang peduli pada anak muda.

Banyak anak muda yang enggan melakukan pemilihan, banyak yang lebih memilih untuk golput. Hal ini dikarenakan mereka tidak yakin bahwa suaranya nanti akan didengar ketika membela keadilan dan kebenaran. Selain itu juga mereka sulit mendapatkan akses informasi yang tepat dan valid serta terpercaya tentang capres mendatang.

Sosial media juga tidak luput digunakan sebagai alat untuk melakukan kampanye. Seperti halya Instagram, TikTok, Facebook, YouTube, Twitter, dll. Itu semua menjadi alat kampanye untuk dapat mencari simpatisan masyarakat khususnya anak muda.

Tim kampanye tampaknya sangat memanfaatkan media sosial. Ada banyak gimmick yang dikontenkan untuk menjaring suara dari para anak muda. Tidak sungkan juga para pasang calon presiden dan wakil presiden Indonesia dalam ajang pemilu 2024, menggunakan anak mereka sebagai tim kampanye politik sebagai presentasi anak muda.�

Calon presiden 2024 Anies Baswedan yang menggunakan anak perempuannya bernama Mutiara Annisa Baswedan. Ganjar Pranowo juga terlihat sering tampil bersama anaknya Muhammad Zinedine Alam Ganjar. Namun berbeda dengan Prabowo yang bersama Bobby, yaitu seekor kucing kesayangannya yang dianggap seperti anak sendiri.

Melihat hal tersebut ada banyak respon positif dari berbagai kalangan anak muda. Gimmick ini dirasa cukup mampu mempresentasikan anak muda.�

Diksi Dan Jargon Anak Muda

Dalam kampanye politik saat ini usaha mendapatkan suara anak muda dilakukan secara terang-terangan. Melalui diksi atau jargon yang mempresentasikan anak muda sekali. Seperti “Yang muda yang berbicara” atau “anak muda harus berani masuk politik”. Kata “muda” seolah mengartikan bahwa mereka adalah “anak muda” atau “pemuda” untuk dapat menjadikan keinginan mereka sebagai bagian kelas muda yang berkuasa.

Citra diri yang mereka tonjolkan seolah menjadi bagian dari anak muda atau mereka yang peduli pada anak muda. Upaya dalam meraih simpati serta suara seolah menjadi hal yang memang biasa digunakan untuk meraup suara tetap dari kaum muda.

Namun, tidak dapat dipungkiri cara mereka dalam mewarisi cara usang tetap mereka gunakan. Jargon dan gaya yang merepresentasikan anak muda, solah hanya gimmick belaka untuk meraih suara dari anak muda. Gaya berpolitik mereka tetaplah usang, tua dan konvensional. Menggaet anak muda di pilpres 2024 hanyalah siasat untuk mereka dapat berkuasa.�

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    LAINNYA